Dinamika Logistik di Jepang : Pemikiran Profesor Hirohito Kuse (Bagian 1)

Prof Hirohito Kuse, Guru Besar Fakultas Sistem Distribusi dan Logistik Universitas Ryutsu Keizai mengajarkan kepada kami di sesi pertama pelatihan IDLM AOTS, 2 November 2017. Profesor Kuse, demikian biasa dipanggil, menjelaskan secara mendasar peran penting logistik sebagai penggerak ekonomi dan sosial di negara Jepang.
 
Pemikiran Kuse tentang logistik sederhana namun sejatinya visioner. “Logistik tidak hanya memiliki nilai ekonomi bagi bisnis, namun logistik memiliki peran penting dalam sosial yang seharusnya dikelola secara efisien dan efektif dengan tetap menjaga keberlangsungan alam semesta”, demikian Kuse mengawali pembelajarannya.
 
Kata logistik pertama kali digunakan di kalangan militer. Tujuan dari logistik militer ini adalah untuk meningkatkan pertahanan nasional, utamanya pada saat mobilisasi tentara, persenjataan, perbekalan, dan makanan pada saat perang maupun damai.
 
Saat ini di Jepang, logistik banyak digunakan di dunia usaha. Hal yang jamak bila setiap bisnis mengejar keuntungan.  Perusahaan-perusahaan mengembangkan banyak strategi dalam mengejar keuntungan, caranya dengan meminimalkan biaya logistik dan memaksimalkan nilai tambah. Bagi dunia bisnis, logistik diperlukan untuk memaksimalkan keuntungan melalui pengelolaan yang efektif dan efisien atas persediaan, transportasi, pergudangan, dan distribusi agar dapat meningkatkan kepuasan pelanggan.
 
Logistik semakin berkembang tidak hanya di militer dan bisnis, namun logistik mulai berkembang di ranah sosial. Seiring dengan kesadaran masyarakat Jepang mengenai lingkungan dan kesejahteraan masyarakat (social welfare). Duapuluh tahun lalu, di Jepang mulai dikenalkan istilah social logistics – logistik untuk kesejahteraan masyarakat.
 
Logistik sosial mencakup green logistics dan reverse logistics. Infrastruktur untuk logistik sosial meliputi pembangunan dan penyediaan fasilitas, teknologi, dan sistem untuk menjalankan aktivitas logistik sosial. Fokus dari logistik sosial adalah meminimalkan dampak terhadap kerusakan lingkungan.
 
Di Jepang, institusi yang aktif untuk logistik bisnis adalah sektor swasta. Sementara untuk logistik sosial lebih banyak diinisiasi dan dijalankan secara aktif oleh pemerintah. Aktivitas logistik di Jepang awalnya difokuskan pada distribusi fisik barang. Dalam distribusi barang ini diperlukan kegiatan transportasi, penyimpanan, pengepakan, bongkar muat, dan pengantaran.
 
Berangkat dari Perencanaan Kota
Di Jepang, logistik berkembang dalam konteks perencanaan kota. “Sebuah kota di Jepang, sistem transportasi, area perkantoran, bisnis, manufaktur, jasa, perumahan, pendidikan, olah raga, rekreasi, dan fasilitas publik selalu dirancang secara komprehensif dan terpadu”, demikian Kuse mengungkapkan.
 
Sistem transportasi di Jepang awalnya diarahkan untuk memberikan solusi transportasi manusia secara masal, aman, dan nyaman. Pembangunan infrastruktur dan sistem transportasi manusia dilakukan secara intensif setelah usai perang dunia kedua, terutama sebagai akibat pertumbuhan penduduk dan ekonomi pada era industrialisasi di Jepang.
 
Transportasi diperlukan untuk mengantarkan orang-orang dari desa ke kota, dari kawasan perumahan ke kawasan industri, perkantoran, dan pusat bisnis. Jepang telah berhasil mengatasi persoalan transportasi manusia dengan transportasi massal secara efektif. Penggunaan transportasi kereta api, baik commuter line yang menghubungkan antardistrik di kota-kota dan Shinkansen yang menghubungkan antarkota-kota di Jepang, telah menjadi transportasi yang andal. Boleh dibilang, transportasi manusia di Jepang sudah sangat mapan.
 
Transportasi Manusia dan Barang
“Mengurus transportasi manusia lebih mudah daripada transportasi barang”, ujar Profesor Kuse. Dalam transportasi manusia, satuan ukuran yang digunakan hampir semua sama. Jenis atau klasifikasi manusia tidak banyak. Satuan ukuran manusia umumnya hanya jumlah orang atau berat. Sementara satuan barang, ukurannya sangat beragam. Ukuran berat seperti kilogram dan tonase. Ukuran volume seperti kubik, liter, containerpallet, dan lain-lain.
 
Jumlah manusia nilainya diskrit, seperti 1 orang, 20 orang, 100 orang, 200 orang, dan seterusnya. Tidak ada nilai 1,5 orang, 2,3 orang, 10,8 orang, dan seterusnya. Berbeda dengan barang, nilai barang bisa 1,2 kg, 2,8 ton, 10,8 liter, dan seterusnya. Nilai barang dapat dihitung dalam nilai diskrit. Belum satuan ukuran barang yang bervariasi, misalnya 1 lusin isinya ada 12 buah. Jenis barang juga banyak sekali. Contoh di Jepang kita dengan mudah kita bisa mendapatkan convenience store, mereka menjual lebih dari 3.000 SKU’s (Stock Keeping Unit’s).
 
Transportasi manusia sangat sederhana. Pembedaannya hanya laki-laki dan perempuan, dewasa dan anak-anak. Klasifikasinya paling banyak hanya 3 variasi. Berat manusia pun tidak banyak bervariasi. Paling berkisar antara 50 sampai dengan 100 kg untuk berat manusia dewasa. Sementara berat barang sangat bervariasi, dari berat terendah misalnya 1 kg sampai 1 ton.
 
Kuse yang juga menjadi Guru Besar Kehormatan di Tokyo University of Marine Science and Technology, menambahkan bahwa dalam mengangkut manusia, kita bisa menanyainya, mau dibawa ke mana? Sedangkan ketika kita mengangkut barang, kita tidak dapat menanyai barang tersebut, mau diangkut ke mana? Dengan demikian, transportasi barang dalam logistik lebih kompleks dibandingkan dengan transportasi manusia.
 
Inti dari aktivitas logistik adalah transportasi. Logistik sangat berhubungan dengan barang. Transportasi dalam logistik adalah transportasi barang, bukan transportasi manusia. Namun, untuk sampai barang siap diangkut, diperlukan pemilahan atau pengelompokkan jenis barang, pengepakan, pemuatan barang (loading), dan penyiapan dokumen pengiriman barang.
 
Menurut pemikiran Kuse, yang paling merepotkan adalah pengepakan dan bongkar muat barang. Dalam logistik, jarak tidak begitu merepotkan. Begitu barang sudah diangkut, barang diserahkan ke perusahaan pengangkutan. Manusia gerakannya sama. Pagi mereka berangkat, sore pulang. Tidak banyak variasi. Sementara angkutan barang sangat bervariasi. “Barang seperti bayi”, demikian Kuse menganalogikan.  “Jadi harus diperlakukan sangat berhati-hati”, ujarnya.
 
Barang bisa berubah jumlah pada saat bergerak karena perubahan satuan ukuran. Barang 1 lusin, bisa berubah di tengah jalan, ketika dipisah menjadi 5 atau 7 buah. Namun demikian, ungkap Kuse, “Repotnya menangani transportasi manusia, mereka bisa complaint. Kendaraan yang panas, AC terlalu dingin, kereta yang lambat, dan sebagainya. Dalam transportasi barang, barang tidak bisa complaint”.